Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

1.8.11

Rencana Persiapan Pembelajaran

Rencana Persiapan Pembelajaran atau sering disebut dengan RPP merupakan salah satu alat bagi seorang guru untuk melakukan aktifitas pembelajaran di dalam kelas. Disebut sebagai rencana karena alat ini dipersiapkan sebelum melakukan action di dalam kelas. Pengajaran model apa yang akan dilakukan kurang lbih 90% tidak boleh melenceng dari RPP yang dibuat.
Salah satu landasan hukum tentang RPP ini adalah PP NO 19 Tahun 2005 Pasal 20 tentang Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya Tujuan pembelajaran, Materi pembelajaran, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Pembuatan RPP disesuaikan dengan kelas yang diampu oleh seorang guru, misalnya:
a. kelas 1, 2, 3 menggunakan RPP Tematik
b. kelas 4, 5, 6 menggunakan RPP Mata Pelajaran

Bagian-bagian dari RPP
  1. Standar Kompetensi
  2. Kompetensi Dasar
  3. Tujuan pembelajaran (karakter siswa yang diharapkan)
  4. Materi Ajar
  5. Metode Pembelajaran
  6. Langkah-langkah Pembelajaran
  7. Alat/ Bahan dan Sumber Belajar
  8. Penilaian
  9. Format Kriteria Penilaian
bagi yang berminat untuk mendapatkan contoh dari RPP bisa hubungi kami via sms atau telepon di 081654949879
Selengkapnya...

23.3.10

Borobudur dan Letusan Merapi 1006 M



W.O.J. Nieuwenkamp, seorang arsitek, pemahat, pelukis, etnolog (semacam antropolog) Belanda di Indonesia tahun 1933 mengeluarkan hipotesis yang menggegerkan kalangan para sejarawan saat itu: bahwa Borobudur dulunya dibangun di tengah-tengah telaga seperti bunga teratai di tengah kolam. Hipotesisnya itu pertama kali ditulisnya di majalah umum yang terbit di Belanda (”Het Boroboedoermeer” – Algemeen Handelsblaad, Deen Haag, 9 September 1933). Boroboedoermeer = telaga Borobudur.

Kemudian ditulisnya lagi tanggal 2 Mei 1937 dalam majalah yang sama dengan judul artikel ”Boroboedoer en omgeving” (Borobudur dan sekitarnya). Dua tulisan ini telah menyulut polemik yang hebat, dan para ahli geologi tersohor zaman itu pun mendapat tantangan yang berat untuk membuktikan apakah benar dulu ada danau mengelilingi candi Buddha terbesar di dunia itu. Nah…, tak kurang dari M.G.R. Rutten dan R.W Van Bemmelen dua tokoh geologi Indonesia turut menyelidiki hipotesis Nieuwenkamp tersebut.
Pendek cerita, baik Rutten maupun Van Bemmelen membenarkan hipotesis Nieuwenkamp itu. Buku spektakular Van Bemmelen, ”The Geology of Indonesia” (1949) sedikit memuat hipotesis tersebut, dan Van Bemmelen menghubungkannya dengan erupsi Merapi tahun 1006, angka tahun yang berasal dari Van Bemmelen.
Sebagai seorang arsitek dan etnolog, Nieuwenkamp tahu bahwa Borobudur adalah sebuah bangunan agung yang menggambarkan perwujudan bunga teratai untuk menghormati Maitreya, Buddha yang akan datang ke dunia ini. Menurut ajaran Buddha, Maitreya akan lahir di tengah-tengah sebuah bunga teratai yang melambangkan kesucian dalam agama Buddha. Inilah terjemahan tulisan Nieuwenkamp, ”Andaikata kita berdiri di tengah telaga itu, kita dapat menikmati keindahan panorama sekeliling Borobudur. Bayang-bayangnya terpantul di permukaan telaga yang jernih dan tenang. Di sekelilingnya hamparan padi menguning, hutan menghijau, dan perbukitan Menoreh membentang di batas selatan. Gunung Sumbing di barat, Merapi-Merbabu-Andong dan Telomoyo di timur, dan gunung Tidar terpaku di tengah hamparan sisi utara. Sungguh panorama yang mengagumkan”.
Daerah sekeliling Borobudur itu sekarang ada yang bernama Tanjung, Bumisegoro, Sabrangrowo, dan sebagainya. Secara toponimi (asal-usul nama daerah), jelas mengindikasi adanya telaga/ rawa di sekitar itu.


Adalah Van Bemmelen, diilhami oleh penelitiannya di wilayah Bandung tahun 1933, berhipotesis bahwa Telaga Borobudur terjadi akibat bendungan piroklastika Merapi menyumbat aliran Kali Progo di kaki timurlaut Perbukitan Menoreh. Itu terjadi sebelum Borobodur didirikan tahun 830-850. Dan adalah Van Bemmelen juga yang berhipotesis (bisa dibaca di bukunya: the Geology of Indonesia) yang menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini lenyap dari sejarah, sampai ditemukan kembali oleh tim Van Erp pada tahun 1907-1911. Kalau melihat gambar peta dan penampang geologi volkano-tektonik Gunung Merapi (Van Bemmelen, 1949), akan tahulah kita bahwa ”nasib” Borobudur sepanjang sejarahnya telah banyak ditentukan oleh merosot-runtuhnya dinding baratdaya Merapi. Dan, ke arah situ pulalah sekarang pun banyak piroklastika hasil letusan Merapi ditumpahkan.
Sebagai gunung api teraktif di dunia, yang di sekelilingnya telah dari zaman purba peradaban manusia tumbuh dan berkembang, mau tak mau Merapi sedikit banyak punya peranan pada maju dan mundurnya peradaban di sekelilingnya.


Selengkapnya...

16.3.10

cara melakukan bimbingan

Sebelum melaksanakan bimbingan belajar, terlebih dahlu guru mengetahui dan memahami faktor-faktor penyebab siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca. Faktor-faktor tersebut bersumber dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal).

Faktor penyebab yang bersifat internal, antara lain:
  1. Motivasi, Kekurangpahaman terhadap manfaat berbahasa dengan baik dan benar akan mengganggu minat dan motivasi siswa belajar bahasa.
  2. Kemampuan dasar intelektual, Kemampuan dasar intelektual yang rendah dapat menyebabkan siswa gagal dalam mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia.
  3. Kebiasaan belajar, Kebiasaan belajar yang salah atau kurang memadai (belajar hanya pada waktu akan ada ulangan) memungkinkan prestasi belajar yang dicapai siswa rendah.
  4. Kemampuan dan keterampilan dasar, Kemampuan dasar memahami dan keterampilan menggunakan bahasa yang kurang dikuasai siswa (menyimak dan membaca, berbicara dan menulis) ikut menentukan keberhasilan siswa dalam belajar Bahasa Indonesia.
  5. Perbendaharaan pengalaman (skemata) Sedikit banyaknya skemata dalam berbahasa Indonesia dapat mempengaruhi kelancaran siswa belajar bahasa Indonesia.

Pola-pola kalimat dan kosa kata dari bahasa ibu sedikit banyak akan berpengaruh kurang menguntungkan bagi siswa dalam belajar Bahasa Indonesia.

Faktor penyebab yang bersifat eksternal, antara lain:
  1. Sangat minimnya sarana penunjang yang tersedia (belum ada buku paket, pepustakaan sekolah belum difungsikan secara optimal)
  2. Metode pembelajaran ayng diterapkan guru kurang menarik minat siswa untuk belajar sungguh-sungguh.
  3. Pemilihan bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa sehingga siswa merasa bosan dan frustasi.

Setelah mengetahui dan memahami faktor-faktor penyebab siswa mengalami kesulitan belajar, maka guru harus dapat mengklasifikasi-kan jenis-jenis kesulitan belajar membaca yang dialami siswa serta dapat menentukan langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Berikut ini akan dijelaskan jenis kesulitan belajar membaca serta langkah-langkah yang digunakan untuk mengatasi masalah kesulitan tersebut: Membaca bersuara Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam membaca bersuara tampak
pada hal-hal berikut:
  1. Membaca kata demi kataSiswa berhenti setelah membaca sebuah kata dan tidak segera diikuti sengan membaca kata berikutnya. Cara-cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitahn tersebut adalah sebagai berikut:
  2. Pilih wacana yang tingkat keterbatasannya setingkat lebih rendah dari tingkat keterbacaan wacana yang umum digunakan kelas. Minta siswa untuk menulis kalimat, kemudian minta ia membaca kalimat itu dengan keras. Jika kesulitan disebabkan oleh kurangnya penguasaan terhadap kosa kata, perkayalah kosa kata.
  3. Jika siswa tidak menyadari, bahwa ia membaca kata demi kata,
Penfrasean yang salah dalam membaca, siswa memenggal kalimat (berhenti) pada tempat yang tidak tepat, tidak memperhatikan pungtuasi sehingga makna kata menjadi salah. Cara yangdapat digunakan dalam proses pemberian bimbingan adalah sebagai berikut:

Jika kesalahan disebabkan oleh ketidaktahuan siswa akan makna kelompok kata (frase), sajikan kalimat-kalimat yang telah diberi tanda pemenggalan untuk dibaca siswa sebagai bahan latihan membaca. Jika kesalahan disebabkan oleh ketidaktahuan siswa akan tanda baca, perkenalkan fungsi tanda baca dan cara membacanya. Berikan sebuah paragraph tanpa tanda baca dan mintalah siswa membacanya. Selanjutnya ajaklah siswa membubuhkan tanda baca yang benar.

Penghilangan Siswa menghilangkan kata atau frase dari teks yang dibacanya disebabkan karena siswa tidak mampu mengeja huruf-huruf tersebut. Cara yang dapat dilakukan saat pemberian bimbingan adalah sebagai berikut:
  1. Lakukan koreksi tidak langsung, misalnya siswa diminta membaca ulang ketika siswamelakukan penghilangan dalam membaca bersuara.
  2. Kenali kata yang biasa dihilangkan
  3. Berikan latihan membaca kata yang sering dihilangkan itu
Pengulangan
Mengulang baca kata disebabkan oleh faktor kurang mampu mengeja huruf atau keterampilan membaca rendah. Untuk mengatasinya, lakukan cara-cara berikut pada saat pemberian bimbingan:
  1. Siswa perlu disadarkan bahwa mengulang kata pada waktu membaca merupakan kebiasaan yang tidak menguntungkan.
  2. Kenali kata yang biasa diulang baca siswa.
  3. Latihan membaca kata yangs sering diulang baca tersebut
Pembalikan
Siswa menggunakan orientasi dari kanan ke kiri dalam membaca, misalnya satu dibaca upas, huruf b dibaca d. Cara-cara berikut dapat ditempuh untuk mengatasi kesulitan tersebut ketika pemberian bimbingan:
  1. Siswa perlu disadarkan bahwa menggunakan orientasi dari kanan ke kiri pada waktu membaca tulisan itu salah.
  2. Siapkan kata-kata yang memiliki kemiripan bentuk untuk latihan membaca, misalnya pipi dan gigi, banu dan dadu.
Penyisipan
Siswa menambahkan atau menyisipkan kata dalam kalimat yang sedang dibacanya. Dalam proses belajar bimbingan, lakukan cara-cara sebagai berikut:
  1. Mintalah siswa membaca kalimat pelan-pelan.
  2. Ingatkan jika ia melakukan penyisipan
Penggantian
Dalam membaca, siswa mengganti kata tertentu dengan kata lain yang merupakan sinonimnya. Cara berikut dapat digunakan pada saat bimbingan:
  1. Gunakan bahan membaca yang tergolong mudah
  2. Tandai kata-kata yang sulit dibaca siswa
  3. Latihan cara membaca kata-kata yang sulit dibaca itu.
Membaca dalam hati
Cara-cara berikut dapat digunakan dalam bimbingan siswa yang mengalami kesulitan membaca dalam hati (pemahaman):
  • Untuk membantu siswa yang mempunyai kebiasaan berkomat-kamit menggunakan telunjuk untuk mengikuti baris-baris kalimat dalam wacana dan menggerakkan kepala ari kiri ke kanan pada waktu membaca dalam hati, lakukan cara berikut:
  1. Minta siswa menggunakan satu kalimat yang dibacanya. Selanjutnya, mintalah ia membaca kalimat itu kembali tanpamenggunakan.
  2. Jelaskan bahwa kebiasaan berkomat-kamit dalam membaca pemahaman itu akan menghambat proses pemahaman isi wacana.
  3. Bila siswa yang biasa menggunakan jari telunjuk atau menggerakkan kepalanya dari kiri ke kanan mengalami gangguan pada mata, sediakan baginya bacaan dengan huruf yang benar dan jelas, latihan teknik membaca frase, dan beri tahu bahwa kebiasaan yang sering dilakukan itu akan merugikan diri sendiri.
  • Agar siswa dapat menangkap pesan wacana yang dibacanya dengan lancar, tempuhkan cara berikut:
  1. Jelaskan kata-kata sulit dari bacaan sebelum siswa mulai membaca.
  2. Kata-kata yang sulit dilafalkan dapat dilatihkan caramembacanya dengan menggunakan metode SAS.
  3. Kesulitan dalam mengenali ide pokok dan ide penjelasan dalam paragraph, hubungan antar idea dan kesulitan dalam membuat kesimpulan dapat diatasi dengan cara berikut ketika bimbingan berlangsung:
Jelaskan penanda kalimat yang mewadahi idea pokok dalam paragraf (pada awal atau akhir paragraf).
  1. Petakan hubungan antar idea yang terdapat dalam satu wacana dengan diagram, bagan atau gambar.
  2. Jelaskan langkah-langkah menarik kesimpulan denganpenekanan pada penggunaan proses berfikir secara kritis dan kreatif.
Membaca Puisi dengan intonasi yang tepat
Untuk mengatasi kesulitan siswa dalam membaca puisi dengan intonasi yang tepat, guru dapat mengambil langkah sebagai berikut dalam pemberian bimbingan belajar membaca:
  1. Memberikan contoh yang benar tentang cara membaca puisi dengan intonasi yang tepat.
  2. Mintalah siswa untuk membaca puisi yang telah disediakan oleh guru.
  3. Guru memberikan koreksi/ evaluasi dengan memberitahu kesalahan yang dilakukan saatmembaca dan memberitahu bagaimana seharusnya membaca yang benar.
  4. Siswa sering diminta untuk latihan membaca puisi agar lebihmemahami cara yang benar untuk membaca puisi.
Pemberian bimbingan belajar membaca ini dilakukan secara berkelanjutan, terus-menerus dan aktif sampai sejauhmana siswa telah berhasil mencapai tujuan dan pemberian bimbingan dilaksanakanlah dan dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Strategi bimbingan belajar membaca
Beberapa strategi yang dapat digunakan dalam melaksanakan program bimbingan belajar adalah sebagai berikut:

Tanya Jawab;
Tanya jawab dapat dilaksanakan secara individual atau kelompok. Dalam pelaksanaan pemberian bimbingan belajar dengan Tanya jawab, guru dimungkinkan untuk membina hubungan yang lebih akrab dengan siswa yang mengalami kesulitan membaca sehingga motivasi belajar siswa itu meningkat.

Diskusi;
Diskusi digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami kelompok siswa. Tujuan dari diskusi yang dilakukan antara lain:
  • Agar individu dalam kelompok dapat mengenali diri sendiri dan kesulitan yang dihadapi sehingga mereka mampu menemukan jalan untuk mengatasinya. apat saling mempercayai antar anggota kelompok diskusi. Dapat mengembangkan kerjasama antar pribadi.
Penugasan
Pemberian tugas sangat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Siswa juga terbantu untuk lebih memahami. dirinya dan untuk memperbaiki cara belajar yang salah yang pernah dilakukannya.

Kerja kelompok
Dengan cara ini diharapkan interaksi antara anggota kelompok mampu memperbaiki diri siswa yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar secara optimal.

Tutor sebaya (pertutoring)Yang bertugas sebagai tutor adalah siswa yang situnjuk guru
dengan syarat siswa itu berprestasi lebih baik, hubungan sosialnyabaik dan disegani teman-teman yang mengalami kesulitan belajar membaca. Guru memberikan petunjuk kepada tutor tentang caramembantu teman yang kesulitan belajar. Guru juga mengawasijalannya kegiatan ini.Dalam memberikan bimbingan belajar membaca, guru dapat memilihdan menggunakan strategi yang paling tepat untuk dipraktikkan dalam kegiatan bimbingan tersebut.




Selengkapnya...

bimbingan belajar bagi siswa


Bimbingan belajar merupakan salah satu usaha yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar yang maksimal. Pelaksanaan bimbingan dilatarbelakangi oleh beberapa aspek, diantaranya aspek psikologis, sosiologis, cultural dan pedagogis. Latar belakang psikologis dalam proses pendidikan siswa sebagai subjek didik merupakan pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan kemampuan anak dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Ada anak yang dengan mudah memahami pelajaran, ada pula yang sulit untuk memahami pelajaran. Oleh karena itu guru mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar yaitu dengan memberikan bimbingan belajar.

Latar belakang sosial budaya, kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang diberikan di sekolah, dengan tujuan agar siswa berhasil dalam bidang pendidikan dan pada akhirnya siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Walaupun begitu, masih saja ada siswa yang belum berhasil. Karena alasan inilah, peran guru sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan belajar kepada siswa yang belum berhasil.

Latar belakang pedagogis, bimbingan belajar mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal dan berhasil dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai pendidik, tugas dan tanggung jawab guru yang paling utama ialah mendidik yaitu memabntu subjek didik untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Sebelum memberi bimbingan belajar kepada siswa, guru diharuskan mengenal dan memahami tingkat perkembangan anak didik. Sistem motivasi kebutuhan, pribadi, kecakapan dan kesehatan mental yang dimiliki oleh siswa yang belum berhasil dalam belajar.

Perlunya pemberian bimbingan belajar membaca bagi siswa Kelas III SD. Bila dilihat dari kemampuan anak secara umum, siswa kelas III seharusnya sudah dapat membaca secara lancar dan benar. Namun, banyak pula anak kelas III SD yang belum bisa membaca. Maka dari itulah peran guru sangat diharapkan untuk memberikan bimbingan belajar bagi siswa yang belum bisa membaca untuk mendukung peran guru tersebut agar berhasil sesuai yang diharapkan maka sebaliknya guru haruslah memahami terlebih dahulu tentang kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam belajar membaca. Setelah memahami kedua hal tersebut, guru akan lebih menentukan teknik/ pendekatan yang paling tepat untuk digunakan dalam memberikan bimbingan belajar membaca. Peranan pemberian bimbingan belajar membaca bagi siswa kelas III SD sangat penting kedudukannya dalam membantu mensukseskan kegiatan gemar membaca. Kegiatan tersebut akan lebih lancar apabnila yang memberikan bimbingan adalah guru, karena guru dalam kedudukannya sebagai personil pelaksana proses pembelajaran memiliki posisi yang strategis. Selain itu, guru juga lebih sering bernteraksi dengan siswa secara langsung sehingga guru dapat mengamati secara rutin tentang perkembangan kemajuan belajar siswa dalam bidang membaca khususnya.Dalam proses pemberian bimbingan belajar ini guru diharapkan mampu membantu siswa untuk lebih maju dan terampil dalam bidang membaca. Untuk mencapai hasil bimbingan belajar membaca secara maksimal akan lebih mudah tercapai apabila yang melaksanakannya adalah guru yang ahli dalam bidang membaca yaitu guru bidang studi Bahasa Indonesia, namun di tingkat SD belum bisa dilaksanakan karena satu kelas dipegang/ diampu oleh satu guru. Hal ini berarti yang melaksanakan bimbingan belajar membaca di kelas III adalah guru kelas III SD itu sendiri.


Selengkapnya...

15.3.10

karakter siswa kelas 3

Karakter bisa digambarkan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Karakter seperti:
  1. Pemarah
  2. Sabar
  3. Ceria
  4. Pemaaf

Dan banyak lainnya karena setiap manusia pasti mempunyai karakter yang berbeda. Manusia sebagai makhluk individu-sosialis mempunyai karakter sosial yang kuat berbeda dengan makhluk-makhluk hidup lainnya.Karakter Bisa disebut juga (Karakteristik), ataupun dalam bahasa
inggris (charateristic). Untuk menunjukan ekstitensi dirinya manusia pasti mempunyai ciri khas karakter sendiri-sendiri.

Masa usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.


Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.

Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.

Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.

Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : (a) tahap sensorik motor usia 0-2 tahun, (b) tahap operasional usia 2-6 tahun, (c) tahap opersional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun, (d) tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas.

Berdasarkan uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.

Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan.

Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.

Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.

Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.



Selengkapnya...

 

© free template by Blogspot tutorial